RSS

SIAPA YANG AKAN MENOLONG KITA

06 Feb

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul Nya, dan ulil amri di antara kamu. [4.59]

Kita berharap bahwa kita akan patuh pada Allah dan nabi-Nya, dan pada shuyuk kita, karena kita tak ingin mengklaim sesuatu yg tidak kita miliki.

Ada yg mengklaim bahwa diri mereka tahu sesuatu. Ada yg mengklaim tahu banyak. Ada juga yg mengklaim tahu akan “segalanya” lalu mereka menunjuk diri mereka sendiri sebagai syekh2 meskipun mereka jauh dari predikat syekh. Tingkat seorang syekh sangat sulit di capai, jadi janganlah mengklaim sesuatu yg tidak kita miliki.

Seperti firman Allah dalam kitab suci Al qur’an :

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim, Wa la tuzakku anfusakum – janganlah kamu mengatakan dirimu suci [53:32]

Jangan puji dirimu sendiri, atau janganlah mengklaim sesuatu yg tidak kalian miliki.Ada orang2 yg saat mendapat sebuah gelar dari suatu universitas ( bahkan belum menjadi seorang PhD ) mereka merasa mampu mengatur dunia. Bahkan mereka yg telah meraih gelar PhD, mereka pikir bisa mengatur negara.

Ada juga orang2 yg berpikir, jika mereka mengikuti orang suci ( syekh asli ) , mereka pikir telah mengetahui segalanya. Lalu mulailah menyebarkan ego mereka yg telah terkontaminasi, ego mereka adalah kesombongan, maka tersebarlah penyakit ini ke seluruh murid2 yg tidak menyadarinya.

Ada lagi orang2 yang setelah mengikuti suluk, mereka pikir diri mereka telah jadi orang suci, dan nama mereka harus di cetak dan di publikasikan dgn bersinar-sinar untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang suci, dan masyarakat wajib mendengarkan mereka. Kita harusnya sadar bahwa jika mengikuti seorg syekh sbg muridnya, saat kita mendapat manfaat dari beliau atau kita melakukan suluk, kita ini masih tak ada apa2nya, dan kita masih dlm proses pelatihan.

Kita belum menghilangkan penyakit2 kita. Kita masih harus dikarantina agar setelah itu kita bisa dilepas pada masyarakat.

Beberapa orang , jika mereka menjadi imam di masjid, mereka pikir bisa mengatur semua umat muslim. Mereka yg punya tanggung jawab pada sekolah atau universitas, mereka kira dapat mengatur tiap orang.

Mereka tak merasa bahwa mereka bukanlah apa2.

Jika seseorang tahu cara berdzikir, saat dia duduk dan mulai berdzikir, dia pikir dia akan menyebarkan spiritualitas pada semua orang- dia tak sadar bahwa dirinya masih terkontaminasi dengan kesombongan dan arogansi.

Otorisasi/ pengesahan adalah penting dlm Islam, dalam syariat dan dalam tarekat. Kami menyebut ijin ini Ijazah ( bhs arab ). Artinya sebuah limpahan wewenang untuk seorang calon yg telah belajar pada para syekh, dari seorang syekh ke syekh-syekh berikutnya sampai salah satu dari keempat Imam. Ini dalam Shariah. Seseorang harus memilikinya- seperti saat ini ada universitas yg gelar PhDnya dari Shariah Islam. HAL INI TAK ADA NILAINYA dibanding ajaran Shariah dulunya.

Ajaran shariah dulunya harus mendapat transmisi langsung dari syekh kalian, dari syekhnya lagi sampai grandsyekhnya, terus .. sampai Imam Shafi’i.

Dia harus terhubung seperti itu. Dan Imam Shafi’i— dari Tabi’een yg mana beliau mendapat instruksi itu? Dan beliau itu, dari kelompok mana beliau mendapat instruksi ? harus punya silsilah seperti ini.

Silsilah ini dapat menuju Imam Abu Hanifa atau Imam Ibn Hanbal. Atau Imam Malik. Harus mempunyai rantai transmisi. Kalau tidak, ijasah mereka adalah nol, tak diperhitungkan.

Dalam Tariqah, sama. Dalam spiritualitas. Dalam realitas ruh diatas ruh, dalam mempelajari makrifat. Pelajaran ini harus melalui sebuah silsilah, rantai para syekh. Dari satu syekh ke syekhnya lagi seterusnya..sampai para grand syekh, sampai Sayyidina Abu Bakr as- Siddiq RA atau Sayyidina `Ali RA, karena dari merekalah asal tariqah, ke 41 tariqah.

Mereka semua bisa berasal dari Sayyidina Abu Bakr (ra) atau dari Sayyidina `Ali RA. Beliau yang memimpin langsung menuju hati Nabi Muhammad saw. Jika silsilah tsb tidak ada, berarti orang2 yg merasa diri mereka telah di beri pengesahan – maka pengesahannya itu adalah nol.

Tak seorangpun bisa mengatakan dan mengklaim bahwa ” Nabi datang lewat mimpi saya” atau mengklaim bahwa Nabi mendatangi ini itu, atau mengatakan ” Saya pergi ke sana dan mendapati diri saya menerima wewenang dalam hal ini dan itu” . Hal ini tidak dapat diterima.

Sekarang ini , para syekh yg mengira diri mereka ( karena mereka bermimpi, atau sedang tidur, dan saat bangun mereka melihat sesuatu ) lalu seketika itu mereka menjadi orang yg punya wewenang.

Jika demikian, lebih baik Sayyidina Muhammad SAW diberi wewenang melalui sebuah mimpi atau sebuah penglihatan. Namun bukan terjadi seperti itu. Beliau membutuhkan Sayyidina Jibril (as). Sayyidina Muhammad , bermeditasi selama 40 th, ber khalwat, suluk, di Gua Hira, dan beliau membutuhkan…

Beliau tak pernah mengatakan : ” Saya melihat ini, saat berdoa pada Allah, saat bersujud pada Allah,”

Sampai Jibril (as) datang pada beliau dan memberinya wahyu secara nyata/fisik. Tidak mungkin lewat mimpi ! bukan pula dlm kondisi koma! Tidak mungkin pula saat pingsan! Tak mungkin dlm keadaan apapun kecuali secara fisik/nyata. Hal itu harus diberikan.

Dan kita mengikuti jejak nabi saw. Hal itu diberikan pada nabi saw  – dari Allah  SWT pada Jibril AS; kemudian dari Jibril kepada Nabi SAW. Sebuah rantai penerus.

Jika kita katakan segala sesuatu datang lewat mimpi, itu boleh saja. Tapi mengapa nabi (saw ) tidak menerima wahyu lewat mimpi ? Atau saat beliau koma, hasha ? Atau mengapa beliau tidak menerima wahyu dgn memakai cara berbeda tanpa arti yg menggambarkan secara fisik ? Beliau melihat Jibril AS secara nyata! Jibril (AS) memeluknya.

Beliau mengatakan, Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim, dgn sebuah pesan Islam, “Iqra’.” Iqra bismi Rabbik alladhee khalaq.” – “Bacalah dengan nama Allah, Tuhan Maha Pencipta.”

Sayyidina Jibreel datang dari kaki langit, menutup seluruh horizon,  dan beliau datang pada Nabi Muhammad (saw) seraya berkata :

“Ya Muhammad (s), Iqra – bacalah.” Nabi saw bertanya , “Apa yg akan ku baca? ”

Jawab Jibril as : ” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [96.5]

Secara nyata Jibril mengajari Nabi saw. Saat Ramadan, Nabi as sering mempelajari Quran dari Jibril AS. Dalam Hadist nabi : kaana yatadarras al-Qur’an ma` Jibreel. ” Dia sering belajar Qur`an dgn Jibril.”

Untuk itu Nabi SAW membutuhkan pembukaan batin secara fisik, wahyu, dari Allah SWT. Allah SWT mengutus Jibril untuk menemui Nabi SAW.

Bagaimana dgn kita sekarang ini, orang2 di seluruh dunia, yang telah mendapat sebuah mimpi atau diperintah oleh mimpinya. Ya, hal ini boleh saja. Jika kalian diminta melakukan sesuatu, kalian laksanakan. Namun yang kalian lakukan terbatas. Tak ada sebuah dukungan. Tak ada pendukung dibelakangnya. Tanpa dukungan, suatu saat hal itu akan rusak, habis sudah. Musnah.

Bahkan saat datang dgn wahyu, Jibril melatih Nabi saw, beliau angkat nabi, beliau kirimkan pesan2 dari Allah swt. Setelah 2 th, Jibril dikirim secara fisik/nyata. Tiap beliau datang membawa wahyu, biasanya selalu secara nyata. Tak pernah Nabi saw mengatakan ” Saya menerima Qur’an lewat mimpi.”

Nabi menerima Quran lewat wahyu melalui Jibril as.

Dan dhikrullah diambil dari Qur’an, nama2 Allah yg indah. Jadi untuk melakukan dzikir, harus secara fisik melalui seorang guru. Kalian tak bisa mengatakan, ” Saya tak butuh seorang guru. Saya tak butuh seorang pemandu!” Allah meminta Jibreel sebagai pemandu Nabi SAW.

Dalam waktu 2 tahun setelah nabi saw menyampaikan wahyu, Allah memanggil Nabi saw menuju kehadapan-Nya.

Maka Jibril AS harus membawa beliau secara fisik pada malam Isra’ wal Mi`raaj. Seperti bulan ini kita berada dlm Lailatul – Isra’ wal-Mi`raj. Secara fisik Jibril as membawa beliau dan Allah memberinya kendaraan , al-buraaq. Nabi saw mampu pergi tanpa buraaq. Nabi mampu “naik” lewat mimpi, tanpa tubuh beliau mampu naik ke atas. Namun, malam itu beliau bersama raganya. Ruh beliau menuju ke hadapan Allah.

Artinya secara fisik kalian membutuhkan seorang guru untuk mengajari dan memandu kalian seperti halnya Nabi yg membutuhkan buraaq, dan membutuhkan Jibril AS, untuk mengantar beliau sampai ke hadapan Ilahi.

Ada buah2an asli dan buah2an plastik. Buah asli ada rasanya, saat kalian makan, kalian rasakan manisnya buah itu. Buah dari plastik, atau yg terbuat dari kertas – bisa kalian memakan kertas, namun tak ada rasa. Kalian dapat memakan plastik tapi tak ada rasanya.

Jadi Dhikrullah dengan syekh yg telah diberi wewenang melalui rantai orang2 suci sampai menuju Nabi saw— itulah dhikir yg punya rasa. Dhikrullah, tiap Asmullah ul-Husna— nama2 indah & atribut milik Allah SWT— rahasia nama2 Allah akan dihiaskan pada kalian. Kalian akan mendapatkan penampilan itu dan Allah akan melimpahkan rahmatnya pada seseorang saat dia berdhikr, karena dia terhubung, melalui hatinya, melalui shaykhnya, pada grand sheykh, dan seterusnya sampai Sayyidina Abu Bakr as-Siddiq RA ataupun Sayyidina `Ali RA, dan kemudian pada Nabi Muhammad saw.

Syekh yg lain, yg mengira dirinya seorang syekh namun tanpa wewenang ataupun melalui sebuah silsilah, yg mengklaim diri sendiri sebagai seorang syekh – dhikirnya tak berasa manis. Suatu saat akan hilang. Allah swt memberi sebuah karakteristik pada nabi saw yg Dia tak memberikannya pada siapapun. Kerendahan hati.

Sayyidina Muhammad adalah orang yg paling rendah hati. Jika kalian rendah hati, kalian akan mendapat pengetahuan spiritual. Saat kalian arogan dan bangga pada diri sendiri, kalian akan dilemparkan seperti mereka yg punya gelar yg didapat dari belajar Islam di universitas, namun tanpa ruh , tanpa jiwa – tak ada kemanisan disana atau rasa didalamnya.

Mereka mempelajari huruf2 yg digabung bersama. Di lain pihak, seorang `Arif billah— ahli makrifat, dia tidak mempelajari huruf2. Namun guru mereka mengajari makna dan rahasia dibalik huruf2. Mereka mulai memilah arti yg tak seorangpun dapat memilahnya. Dan ini dilakukan dgn rendah hati.

Jika sombong, kalian akan jadi iblis. Iblis adalah sombong. Jadi jangan menjadi seorang yg arogan. Rendah hatilah. Saat kalian merendahkan diri, orang akan mencintaimu. Saat orang2 mencintaimu, syekh kalian akan membawa kalian mendekati beliau. Saat beliau membawa kalian utk mendekat, beliau akan membawa kalian melewati silsilah untuk mencapai cinta dan penglihatan akan nabi Muhammad saw.

Dulu ada seorang raja yg dikirimi seorang budak- raja pada masa itu biasanya punya banyak budak. Orang2 biasa membeli budak dari berbagai negara di dunia. Hal itu seperti sebuah perdagangan, dalam suatu periode. Jadi mereka memberi raja sebuah hadiah, seorang budak. Namun pembantu itu (yg dikirim pada raja ) adalah seorang yg baik – jika kalian tak mau menyebutnya sbg seorang budak.

Lalu raja menanyakan beberapa pertanyaan. Beliau bertanya saat mereka menghadirkan pembantu itu, “Siapa namamu? ” Jawabnya, ” Tuanku, seorang budak tidak punya sebuah nama. Apapun yg tuan sebut dia, dia harus menjawabnya. Sebelum anda, saya pernah bersama tuan2 yg lain. Dan mereka memanggil saya berbeda-beda. Tugas saya adalah menjawab tuan. Tugas saya bukanlah untuk mempunyai sebuah identitas, sebuah nama. Saya tak punya nama.”

Lalu raja bertanya , “Pakaian apa yg sepantasnya saya berikan padamu ?”

Jawab si budak, “Oh tuanku, saya tak punya pilihan. Di hadapan baginda, saya tak punya pilihan, juga saat di hadapan tuan2 saya sebelumnya, saya tak punya pilihan. Seorang budak mengiyakan apa yg dikatakan tuannya. Jika tuan saya berkata: Pakai baju merah ini. Maka saya melakukannya. Pakai baju biru ini. Sayapun memakainya. Jika hijau, saya pakai itu. Jika beliau menyuruh untuk tak memakai apapun, saya tak akan memakai apapun. Hal ini adalah pilihan tuan. Bukan pilihan saya. ”

Dengar baik2.

Beliau bertanya, ” Makanan apa yg paling kamu suka ?” Jawabnya, ” Oh tuan, makanan apapun yg mereka berikan pada saya utk dimakan, saya makan. Jika mereka memberi nasi, saya makan nasi. Jika mereka memberi roti, saya makan roti, jika mereka memberi daging, saya makan daging. Jika mereka memberi rumput, saya makan rumput. Jika mereka memberi buah, saya makan buah. Tak ada pilihan buat saya di hadapan tuan.”

Lalu raja akhirnya berkata, ” Budakku, pembantuku, jadi apa yg bisa kulakukan untukmu ?

Jawabnya, “Oh Tuanku, apakah seorang budak punya keinginan dihadapan tuannya ? Budak adalah dibawah kehendak raja, tuannya. Anda memilih apa yg bagus buat saya, lalu anda beri itu pada saya. ”

Kata raja, “Oh pembantuku, kamu seorang muslim sejati. Dan lebih baik kamu memimpin negara ini daripada aku. Kamu seorang raja, dan saya pendukungmu.”

Saat seorang hamba memperlihatkan tak punya keinginan, dalam berbagai cara Allah membuat mereka menjadi raja. Saat kalian tidak menunjukkan keinginan…. Nabi saw tak pernah punya suatu keinginan. Allah membuatnya beliau sebagai Rasul terakhir. Orang suci, mereka tunduk pada kehendak Allah SWT dan kehendak nabi saw.

Allah menjadikan mereka orang2 suci. Saat kalian menundukkan diri pada kehendak guru kalian, maka beliau akan mengangkat kalian dan mempercayai kalian untuk membawa amanah umat dibawah pengajaran kalian.Itulah hal yg penting, tunduk. Tidak bangga akan gagasan dan pikiran kalian sendiri.

Ini adalah suatu kutukan, jika kalian bangga dgn pikiran dan gagasan diri sendiri. Kalian seorang pecundang. Saat ini, karena arogansi, kesombongan, anak2 tidak menerima apa yg orang tua katakan. Orang tua tidak menerima apa yg orang yg lebih tua katakan. Tiap orang berlari dalam jalan mereka sendiri2. Mereka tidak mau mendengar apa yg Islam dan Qur’an katakan.

Mereka mendengarkan hanya yg dunia katakan pada mereka, dan apa yg setan katakan pada mereka, dan nafsu2 buruk yg dibisikkan.

Lihat anak laki2 itu. Siapa namanya ? Hamdaan. Bagaimana dia membawakan ( bacaan qur’an. Pentj )? Berapa umurmu ? 12 tahun. Dia membaca lebih baik dari semua yg berada diruangan ini. Dia berumur 12 th, dan kita ini berumur 70, 80, 90, 60, 50, 40, 30. Dunia ini tak ada dihatinya.

Yg lain, Allah memberi mereka – bukannya belajar membaca seperti Hamdaan, mereka sedang belajar bagaimana menyanyikan lagu-lagu, MTV, video klip, diskotik, mengejar wanita cantik, artis, aktris. Ini gaya hidup yg seorang yg masih sangat muda dlm meningkatkan kepatuhan pada Allah. Dia akan berada dalam bayang2 singgasana Allah saat kiamat nanti.

Nabi bersabda, ” Yang tujuh akan berada dibawah bayang2 Allah saat kiamat. ” Saat matahari akan membakar otak tiap orang. Allah akan menaungi ke tujuh kelompok itu. Salah satu dari mereka adalah “waladun nasha `ala ta`atillah,” – seorang anak yg tumbuh dalam kepatuhan pada Allah.”

Yang lain adalah walad , yang tak pernah mengatakan “huh” pada ayah bundanya saat dia hidup. Allah menaunginya.

Orang kaya saat ini atau mereka yg berpenghasilan menengah sedang mengejar segala yg kotor; dan anak tadi yg tak punya apa2 mengejar kepatuhan pada allah, sangat berlawanan.

Namun kita masih mengatakan bahwa Allah SWT selalu penuh ampunan. Dan Allah swt telah mengatakan pada Nabi saw: “wa maa arsalnaaka illa Rahmatan lil `aalameen.” Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [21.107]

Jadi insya Allah kita akan, masing2 dari kita akan berada dibawah ampunan Allah swt. Mereka yg sedang berlari kesana dan kemari, Allah memberi mereka ampunanNya ( amin ).

(didit Phinastika)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2011 in sepiritual

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: