RSS

Tiga macam syahadat dalam sholat

03 Agu

Tiga Syahadat, yakni : Syahadatun Bil Qouli, Syahadatun Bil Qolbi dan Syahadatun Bil Arkan, ini apabila diwujudkan, maka wujudnya adalah wujud sholat.
Jadi sholat itu adalah satu ibadah yang merupakan satu-kesatuan dari 3 Syahadat diatas. Makanya Rosululloh SAW bersabda :

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : AL’AHDULLADZII BAINANAA WA’AHDULLAHUM ASHSHOLATU FAMAN TAROKAHAA FAQOD KAFARO.

(‘An Bariidah) Hadits Shohih – Rowahu Ahmad wat-Tirmidzi Wan-Nasaai Wa Ibnu Maajah Wa Ibnu Hibban Fil Mustadrok Lil Hakim.

Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW :Janji antara Aku (Rosululloh) dan antara mereka (orang-orang Munafik) itu adalah Sholat. Maka barangsiapa yang meninggalkan Sholat, maka benar-benar kafir”.

 

Terkadang ada orang yang bertanya : Orang yang sejak kecil sampai besar tidak pernah melakukan sholat, apakah orang tersebut dinamakan orang yang meninggalkan sholat ?

Maka jawabannya ialah orang yang sejak kecil tidak pernah melakukan sholat tersebut tidak disebut orang yang meninggalkan sholat, sebab memang belum pernah sholat. Lain dengan orang yang sudah pernah sholat, kemudian setelah itu sholatnya ditinggalkan, ini namanya orang yang meninggalkan sholat, dan inilah menurut Hadits diatas “Kafaro”.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MIFTAAHUSH SHOLAATI ATH-THUHUURU WATAHRIIMUHAAT TAKBIIRU WATAHLIILUHAT TASLIIMU (Al Hadits).

Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW : Kuncinya sholat itu sesuci, dan awalnya sholat itu takbir dan akhirnya sholat itu salam”.

 

Hadits diatas menerangkan kuncinya sholat ialah “Suci”, yakni suci dari :

1. Hadats kecil.

2. Hadats tanggung.

3. Hadats Besar.

Hadats kecil itu kentut, dan untuk menghilangkan Hadats kecil, caranya adalah dengan Wudlu dan Tayammum. Adapun untuk menghilangkan Hadats besar caranya dengan mandi Jinabat atau Tayammum.

 

Jadi yang dinamakan sholat itu ialah ibadah yang unsurnya terdiri dari :

1. Unsur Qouli.

2. Unsur Fi’li.

3. Unsur Qolbi.

Yang diawali dengan Takbirotul Ihrom dan diakhiri dengan salam, itulah yang dinamakan sholat.

 

Orang yang sholat, yang pertama adalah berdiri (Unsur Fi’li). Dan berdiri ini adalah melambangkan huruf Alif atau angka satu. Berdiri tegak, dengan mata memandang yang akan dipakai untuk sujud oleh dahi.

 

Kalau masalah menghadap, jasmani ditunjukkan arah menghadapnya. Dalam Al Qur-an diterangkan :

FAWALLI WAJHAKA SYATHROL MASJIDIL HAROOM

Artinya : “     Maka hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Harom”.

Dalam ayat tersebut ada kalimat “Syathrol Masjidil Harom” artinya : Arah Masjidil Harom. Jadi perintah menghadap itu cuma menghadap kearah-arahnya Masjidil Harom saja : Syathrol Masjidil Harom. Kok terkadang begitu kawatirnya kalau tidak pancer dengan Masjidil Harom, padahal kalau naik perahu (kapal laut), seumpamanya pada waktu awal melakukan Sholat, ketika membaca : Allohu Akbar disitu menghadap lurus ke Mekkah. Akan tetapi setelah itu kapal tersebut berpusing, sehingga orang yang Sholat tadi yang asalnya menghadap lurus ke Mekkah, jadi menghadap kearah selatan. Apakah lalu orang tadi akan melompat meluruskan dirinya ke Mekkah ? Kalau sampai seperti itu, sholatnya ya batal.

 

Begitu pula bagaimana orang yang naik pesawat mau melakukan Sholat, sedangkan Ka’bahnya ada dibawah ! Begitu pula seumpamanya orang yang ke bulan, terus akan melakukan Sholat, bagaimana mengha-dapnya ! Ya kita tidak usah bingung-bingung kalau menghadapi persoalan seperti itu. Rosululloh SAW. pernah bersabda :

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MAA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI QIBLATUN (Al Hadits).

Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW :       Sesuatu antaranya Timur dan Barat itulah kiblat”.

Ya kita cari, manakah yang antaranya Timur dan barat kita itu ?

Seumpamanya kita meletakkan cangkir disebelah Timur kita, itu namanya cangkir tersebut letaknya disebelah timur kita. Padahal dalam Hadits diatas menerangkan : Kiblat itu letaknya diantara Timur dan Barat, lalu Timur itu yang mana, yang Barat itu yang mana ?

 

Kalau orang Tashawwuf ya tidak repot-repot. Kalau perkara jasmani itu cuma arah-arah saja, pokoknya sudah menetapi formalnya, ya sudah, jadi tidak harus lurus menghadap Ka’bah itu tidak.

 

Jadi yang pertama adalah “Al Qiyaam” : Berdiri tegak, “Mustaqbilal Qiblati” : Menghadap kiblat. Berdiri tegak sendakep itu isyaratnya huruf Alif atau angka satu. Orang mengaji itu awalnya ialah Alif, dan orang hitung-hitung, itupun awalnya satu. Satu itu ya Alif, Alif itu ya satu. Satu Alif adalah hidup, hidup adalah satu dan lanjut.

 

Waktu berdiri, lalu melakukan Takbir yang pertama, yakni : Takbirotul Ihrom, yakni membaca : Alloohu Akbar. Selain Takbir yang pertama, itu namanya Takbirotul Intiqolat, yakni Takbir untuk aba-aba pindah dari rukun satu ke rukun yang lain. Intiqolat itu artinya pindah.

 

Takbir yang pertama dalam Sholat dinamakan Takbirotul Ihrom, terus tangan diangkat, dan ukurannya mengangkat tangan ialah daun telinga. Seumpamanya kawatir tidak sejajar, karena itu memang harus sejajar, maka ya ditatapkan saja pada daun telinga.

 

Jadi berdirinya dalam Sholat itu adalah isyarat satu, yakni : “Asyhadu AnLaa Ilaaha Illalloh”. Kemudian Takbirotul Ihrom itu bunyinya apa ? Bunyinya ialah : Alloohu Akbar. Dan ketika Adzan, juga awalnya : Alloohu Akbar – Alloohu Akbar.

 

Nama Alloh itu ada 99 nama, akan tetapi yang disebut dalam Adzan dan dalam Sholat sebagai bacaan untuk perpindahan dari rukun satu ke rukun lainnya itu adalah Akbar. Alloh itu adalah nama. Dan yang dinamai iu adalah Dzat. Akbar itu maknanya Maha Besar. Adapun Akbar itu maksudnya ialah :

  • Maha Besar Dzat-Nya.
  • Maha Besar Qudrat-Nya.
  • Maha Besar Rohmat-Nya.
  • Maha Besar Ilmu-Nya.
  • Maha Besar Kalam-Nya.
  • Maha Besar Ampunan-Nya.
  • Maha Besar Nikmat-Nya, sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :

WA-INTA’UDDUU NI’MATALLOOHI LAA TUHSHUUHAA

Artinya : “ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, maka kamu tidak mampu menghitungnya”.

Dan dari besarnya nikmat yang dilim-pahkan kepada manusia, seandainya manusia itu menghitung-hitung akan nikmat yang dilimpahkan kepada manusia tersebut, maka manusia itu tidak ada kemampuan untuk menghitung-hitungnya, karena dari banyaknya nikmat-nikmat itu.

Dari banyaknya nikmat yang diberikan oleh Alloh Ta’ala kepada manusia, maka kita patut tunduk kepada Dzat Yang Maha Kuasa yang memberi hidup, yang menjadikan manusia, yang telah memberikan seluruh nikmat-nikmat yang tidak terhingga banyaknya. Jadi ini patut kita tunduk, patut tawadlu’, makanya setelah berdiri kemudian Ruku’. Dan sebelum Ruku’ yakni didalam berdiri kita membaca ikrar :

INNA SHOLAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATI LILLAAHI ROBBIL’AALAMIIN.

Artinya : “     Sesungguhnya Sholat saya dan seluruh ibadah saya dan hidup saya dan mati saya, seluruhnya saya persembahkan kepada tuhan pengatur segala alam”.

Ini adalah pernyataan dengan lesan, bahwa apa yang ada didalam diri kita, kesemuanya itu kita serahkan, kita tundukkan kepada Alloh Robbul ‘Alamin.

 

Setelah berdiri dalam Sholat, kemudian Ruku’, dan Ruku’ itu adalah isyarat tunduk. Karena dari banyaknya nikmat-nikmat yang diberikan kepada manusia, sampai-sampai tidak kuat mengangkatnya sehingga membungkuk-bungkuk (Ruku’). Dalam Al Qur-an surat Al Kautsar diterangkan :

INNAA A’THOINAAKAL KAUTSAR.

Artinya : “     Sesungguhnya Aku telah melimpahkan kepadamu kebaikan yang banyak”

 

Dan cara untuk menerima nikmat yang begitu banyaknya itu dengan cara : “Fasholli”, yakni dengan cara Sholat, yang didalam Sholat itu ada Ruku’nya, bahkan tidak hanya Ruku’ saja tapi sampai Sujud (Taat), Sujud serendah-rendahnya dihadapan Kebesaran Alloh, dihadapan Akbar.

 

Jadi Ruku’ dan Sujud itu adalah isyarat :

  • Menundukkan jasmani kepada Alloh Ta’ala.
  • Menundukkan ruhani kepada Alloh Ta’ala.
  • Menundukkan qolbi kepada Alloh Ta’ala.
  • Menundukkan akal kepada Alloh Ta’ala.
  • Menundukkan fikiran kepada Alloh Ta’ala.
  • Menundukkan perasaan kepada Alloh Ta’ala.
  • Menundukkan kesadaran kepada Alloh Ta’ala.

Kesemuanya itu ditundukkan kepada Alloh Ta’ala. Jadi Sujud itu maknanya tunduk, taat, merendah serendah-rendahnya kepada Alloh Ta’ala. Dan kita jangan coba-coba Takabbur dihadapan Alloh Ta’ala. Inilah Syahadatnya jasmani dan ruhani, makanya setiap pindah dari dari rukun satu ke rukun yang lain mesti membaca : “Alloohu Akbar”: Tuhan Maha Besar.

 

Dari berdiri pindah ke Ruku, membaca Alloohu Akbar, dari Ruku’ pindah ke Sujud, membaca Alloohu Akbar dan seterusnya. Dan kalau dalam hati kita benar-benar meyakini bahwa ; Tuhan Maha Besar, maka didalam diri kita tidak ada lagi tempat selain kebesarannya Alloh Ta’ala. Jadi Sholat itu adalah menundukkan jasmani, menundukkan hati, ruh benar-benar tunduk kepada Alloh Ta’ala.

Sujud itu maknanya ialah :

  • Menundukkan jasmani.
  • Menundukkan ruhani.
  • Menundukkan akal fikir.
  • Menundukkan rasa hati.

Semuanya ditundukkan kepada Alloh ta’ala. Dan tunduk kepada Alloh itu bukan hanya pada waktu Sholat saja, akan tetapi setelah Sholatpun harus tetap selalu tunduk kepada Alloh Ta’ala. Dalam Al Qur-an surat Al-Ankabut disebutkan :

INNASH SHOLAATA TANHAA ‘ANIL FAHSYAAI WAL MUNKARI.

Artinya : “     Sesungguhnya Sholat itu mencegah dari perbuatan Fahsya’ dan perkara Munkar”.

 

Jadi setelah Sholatpun hati tetap harus Sujud kepada Alloh Ta’ala. Sujudnya hati, yakni tunduk melaksanakan perintah-perintah Alloh, dan menjauhi larangan-larangannya Alloh. Ini namanya Sujud atau tunduk. Rosululloh SAW. juga pernah dawuh :

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : MAN LAM TANHAA SHOLAATAHU ‘ANIL FAHSYAA-I WAL MUNKARI LAM YAZDAD MINALLOOHI ILLAA BU’DAN (Al Hadits).

Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW : Barang-siapa yang Sholatnya tidak mencegah dari perbuatan Fahsya’ dan perbuatan Munkar, maka tidak ada tambah (dekat) dari Alloh, kecuali tambah jauh”.

 

Jadi siapa yang Sholat, akan tetapi Sholatnya itu tidak membuahkan mencegah dirinya dari perbuatan Fahsya’ dan Munkar, maka orang tersebut bukannya bertambah dekat kepada Alloh ta’ala, akan tetapi orang tersebut bertambah jauh dari Alloh Ta’ala. Orang yang seperti itu yang didapatnya ialah neraka Weil :

FAWAILUL LILMUSHOLLIIN

 

Setelah selesai Sholat, kemudian keluar dari tempat Sholat, tapi ternyata bersifat takabbur, ini artinya Sujudnya didalam Sholatnya tadi tidak beratsar pada diri orang tersebut. Ada juga terkadang selesai Sholat, kemudian menghadap ke kaca cermin, dan memandang wajahnya di cermin dan berkata: Tidak ada orang yang ganteng seperti saya ini. Masya Alloh sombongnya, itu namanya pamer sesuatu yang akan jadi makanannya rayap.

Jadi masalah Syahadat itu terus…pada diri kita, kemudian akhir Sholat itu ialah Salam. Menengok ke kanan membaca Salam, demikian juga menengok ke kiripun juga membaca Salam : “Assalaamu ‘Alaikum”, ini maknanya mendoakan supaya kita semuanya itu dalam keadaan keselamatan. Dalam Hadits, Rosululloh SAW bersabda :

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM: ALMUSLIMU MAN SALIMAL MUSLIMUUNA MIN LISAANIHI WAYADIHI (Al Hadits).

Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW : Orang Muslim itu orang yang membuat selamatnya orang Muslim lain dengan lesan dan tangannya”.

 

Jadi orang Muslim itu adalah orang yang setiap hari lesan dan tangannya menye-lamatkan orang lain. Akan tetapi kalau selesai melaksanakan Sholat, kemudian memukul orang lain, itu namanya tidak sesuai dengan sebutannya sebagai Muslim.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 3, 2011 in umum/lowongan kerja

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: