RSS

Dongeng Murid sembahyang kok ngintip sarungnya Njeng Sunan Kalijogo yang bolong (berlubang)

12 Mar

Ada dongeng, Njeng Sunan Kalijaga diserahi menggarap soko (tiang). Pada saat menatah kayu, kena hayawan orong-orong dan patah kepalanya pisah dengan badannya lalu mati. Nah..kok mati (kata Sunan Kalijaga). Orong-orong ini kok ngglibet terus, sudah tahu kalau aku kerja seperti ini. ( Masak orong-orong tahu kalau itu nggarap/mengerjakan tiang). Sunan Kalijaga menyesal, terus disambung dengan tatal. Kepala disambung dengan badannya, tapi yang dipakai nyambung itu tatal, kemudian hidup lagi.
Sampai sekarang cerita yang pendek itu diterima secara leterlek (apa adanya), makanya orang-orang itu pasti mengira bahwa di dalam orong-orong itu ada tatalnya. Silahkan diangan-angan !…

Kepala itu kan tempatnya otak, dan badan tempatnya hati. Satu tempatnya perikso, satu tempatnya roso. Perikso dengan roso itu kalau digabung jadi satu, otak harus pertimbangan dengan hati, hati pertimbangan dengan otak, itu nanti jadi ULIL ALBAB. Kalau hanya mengandalkan otak saja, yaa seperti itu, mengkhawatirkan, pinter tapi penipu. Apalagi yang senang (terpaku pada fanatik), tidak bisa membedakan yang Islam dengan Arab. Kena fasehat, kalau ngucap piro-piro, itu jadi firo-firo, baca khutbah ngucap poro hadirin, jadi foro hadirin, begitu juga dengan mengucap jangan mepet-mepet, jadi jangan mefet-mefet. (fasehat itu).
Ada cerita Sunan Kalijaga sembahyang mengimami, yang makmum banyak muridnya itu. Dan pertengahan sembahyang, muridnya tahu kalau sarungnya Sunan Kalijaga itu ada lubang, setelah selesai sembahyang, lalu murid tadi bertanya :” Njeng sunan apa tidak terasa…?”. Lalu Sunan Kalijaga tanya ” Ada apa …?. “Sarung penjenangan itu ada lubang. itu kan aurotnya kelihatan., berarti tidak syah”. Sunan Kalijaga menjawab :” Oh..gitu ? sudah kalau begitu keluarlah jangan jadi muridku”. (Jawaban njeng sunan seperti itu). Lalu muridnya bertanya : Kenapa njeng sunan , saya diusir ?…
Jawab Sunan Kalijaga : Orang Sholat itu, saat kamu baca ALLOHU AKBAR, Alloh kan Maha Besar, kamu kosentrasi kepada Dzat yang Maha Besar. Tapi kamu kok kosentrasi kepada lubang sarung ?…(apakah ini namanya sembahyang?..) jadi lesanmu membaca ALLOHU AKBAR, tapi hatimu tidak merasakan kebesarna Alloh. Itu munafik. Badanmu ruku’ mengagungkan Alloh, tapi hatimu tidak mengagungkan Alloh. Kamu sujud maknanya itu tunduk, badanmu tunduk kepada Alloh, tapi hatimu tidak tunduk kepada Alloh, buktinya segala perintahnya tidak kamu kerjakan, segala larangannya tidak kamu jauhi, itu tidak tunduk namanya. Sikap yang seperti itu munafik. Kamu kalau selesai sholat lalu baca salam, ke kanan :
“ASSALAAMUALAIKUM”,
Maknanya “ASSALAAMU” itu selamat, maknanya “‘ALAIKUM ” itu mudah-mudahan tetap atas kamu semuanya. Tapi nyatanya kamu tidak membuat selamatnya orang lain. Cuma lesanmu saja mengucap salam, tapi kamu menyakitkan, menipu orang lain dsb. Makanya kamu itu saya pimpin di sini ini. Sembahyang itu menghadap kepada Alloh Dzat yang Maha Agung, Maha Kuasa (Rajanya Raja), mestinya khusyu’, tapi matamu melirik sarung lubang itu, ngintip yaa..?

Saya angan-angan, cerita pendek njeng Sunan itu sindiran, itu cerita tidak sungguhan seperti itu, tidak kok muridnya itu ngintip sarung yang berlubang milik njeng Sunan. Itu hanya sindiran, jadi jangan dhohir saja.

Nanti kamu makmum, lalu tahu imamnya baca fatehah kurang fasih, kamu mutung (ngambek) nggak jadi, sebab baca WALAD DHOOLIIN dibaca WALAYUQLOO, ‘ALAIHIM dibaca NGALAIHIM, sehingga tidak jadi sholat, dianggap tidak syah, karena yang makmum tahu/ahli tajwid, dan yang imam itu tidak ngerti tajwid, terus ngambek.

CERITA SUNAN KALI JOGO

Dalam kitab TOBAQOT KUBRO itu ada, ada seorang Waliyulloh termasyhur, kemudian ada rombongan ulama’ akan Tabarrok kepada waliyulloh itu. Waktu di situ sudah malam (kemalaman), saat sembahyang maghrib, yang disebut waliyulloh itu mengimami, waktu mengimami baca fatehahnya tidak fasehat. Rombongan kyai-kyai itu ngambek, katanya :” yaa jauh-jauh datang ke sini, dikenal umum memang waliyulloh, tapi fatehahnya tidak bagus itu.
Berhubung mau pulang memang jauh, akhirnya bermalam di situ, belum ditemui oleh waliyulloh itu tadi. Malam itu mereka (rombongan) bermimpi mandi di sungai besar. Waktu mandi itu kan pasti telanjang, dan pakaianya diletakkan ditanggul. Kebetulan ada harimau di dekat pakaian itu, akan naik ketanggul setelah mandi itu, pakaiannya dijaga harimau, wah bagaimana ini ?…tidak naik itu kedinginan, naik di situ ada macan (harimau), jadi bingung. Ini kalau tidak naik, maka bisa mati kedinginan, tapi kalau naik, maka mati dimangsa macan.
Ditengah-tengah kebingungannya tersebut, yang disebut waliyulloh itu lewat di situ terus macan itu dipegang dan dibilangin,”Eh…ini pakaiannya tamu saya, besok pagi itu akan saya temui, pergilah …!”. Akhirnya macan itu pergi dan rombongan yang mandi itu naik dari sungai. Dan setelah selesai berpakaian, semua sama bangun dari mimpi dan saling tanya. Saya mimpi ini, yang lain juga bilang mimpi yang sama. Kalau begitu orang tersebut adalah wali sungguhan ini.

Pagi-pagi terpaksa menghadap waliyulloh tersebut, karena mimpi yang seperti itu. Dan ditanya oleh waliyulloh : “Anda dari ma na…?jawab mereka : “Kami dari jauh, daerah timur tengah”. Kata Waliyulloh: Wah anda -anda mutung (ngambek) yaa, memang saya itu kalau baca fatehah itu tidak bisa fasehat. Lalu orang-orang itu berkata : Wah kena kita ini. Karena saking berkiblatnya hati saya sungguh kepada Alloh SWT, sampai tidak sempat menata bacaan saya. Dan berhubung anda-anda ini tidak takut kepada Alloh SWT, tapi takutnya cuma kepada macan. Lho.. kok tahu kalau aku bermimpi ketemu macan. Makanya saya suruh pergi macan itu.
(Ini qishoh, tersebut dalam kitab TOBAQOT SYA’RONI KUBRO)

Tapi ceritanya Njeng Sunan Kalijogo itu lain,singkat dan lucu, tapi mengandung makna yang mendalam. Murid sembahyang kok ngintip sarungnya Njeng Sunan Kalijogo yang bolong (berlubang). Jadi lupa kepada Alloh Ta’ala, dan lebih jelas dengan lubang sarung. Jadi itu bukan sembahyangnya orang sufi. Makanya kanjeng Nabi bersabda, dalam kitab Ghoniyyah, kitabnya Abdul Qodir Jaelani.
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM
saya’tii zamaanun yusholluuna walaa yusholluun
Artinya :” Kamu akan menemui salah satu zaman, di zaman itu orang-orang sama-sama sholat, tapi sesungguhnya tidak sholat.”
Jadi kelihatannya sholat, tapi sesungguhnya tidak sholat. Kanjeng Nabi dawuh seperti itu silahkan diangan-angan sendiri. Kelihatan sholat tapi tidak ada sholat di situ. Silahkan diambil kesimpulan sendiri …!

Jadi sedikit pesan kepada saudara sepaham, kalau sarung Bapak Kyai bolong dikit jangan di intip melulu , yang penting kita mengikuti beliau untuk sampai kepada Alloh SWT.
Maaf Bagi yang merasa tetangga kalau tujuannya Yasinan ya jangan suka ngrasanin yang bukan – bukan , katanya golongan ini atau golongan itu….ya saya jawab :
Mudah-mudahan kita ditunjuki oleh Allah termasuk golongan yang lurus. Seperti dalam ayat dibawah ini
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
(Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)
Ihdinash shiraathal mustaqiim
(Tunjukilah kami jalan yang lurus)
Shiraathal ladziina an’amta alaihim
(Yaitu jalan orang-orang—yang telah engaku beri nikmat kepada mereka)
Ghairil maghdhuubi alaihim wa ladh dhaalliin
(Bukan jalan orang-orang yang dilaknat, bukan pula yang tersesat)

(Semoga bermanfaat Didit Ngasinan)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2012 in sepiritual

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: